Bangkit dari hiatus, dan pasca berita istirahatnya Ichan si frontman, Colorcode kembali dengan fase baru lewat debut album Constant Change. Album ini menandai periode baru dengan 10 track yang menggambarkan perubahan konstan, literally.
Showcase dan tur tentu menjadi salah satu aktivasi dari perpanjangan album ini; dimulai dari barat pulau Jawa dan nantinya akan diakhiri di pulau Bali. Titik ke-4 tur ini adalah Purwokerto dari total 11 titik persinggahan.
Show Purwokerto ini difasilitasi oleh kolektif Spiff Up The Frat dan berlokasi di Aora Club. Pertunjukan dibuka oleh The Telephones selaku band tuan rumah yang mampu memberi penyegar di awal sebelum pada akhirnya api dikobarkan oleh band utama, Colorcode.
Colorcode mengawali songlist dengan Dreamer. Sementara Submerge menjadi track dari album Constant Change yang pertama dibawakan. Dengan total 15 lagu yang dibawakan; gabungan dari EP Check My Sanity (2024) serta full album Constant Change (2026), pemilihan songlist cukup pas untuk pendengar lama maupun pendengar baru.
Seperti halnya panggung emo dengan moshpit yang memanas, stage diving dan two step juga tak lepas dari pertunjukan malam itu. Meski venue yang dipilih adalah klub yang notabene DJ proper, namun show tanpa barikade tersebut dapat berjalan dengan kondusif.
Perihal sound, lighting, serta layar panggung, mungkin show kali ini bisa dikatakan menjadi titik “termewah” dibanding 3 titik sebelumnya. Namun sayangnya visual di panggung kurang dimanfaatkan; hanya visual typeface logo Colorcode.
Ichan sebagai frontman tampil full di panggung malam itu. Penonton yang memadati venue juga memberi energi yang kuat untuk performa malam itu. Dan Colorcode bisa menghantarkan balik energi tersebut.
Amjad sebagai bassist juga tak kalah enerjik. Tak cuma memainkan ritme tapi juga menguasai panggung, lompat, dan berjalan kesana kemari mengisi panggung. Show kali ini sungguh memberi asupan kerinduan untuk fans mereka; efek dari satu tahun hiatusnya band ini.
Penonton wong kalahan yang hadir juga banyak ber-sing along. Selain lagu Merra yang menjadi andalan, di album Constant Change ini, Sway juga menjadi track andalan untuk merayakan kekalahan. Tak kenal latar belakang tua-muda, laki-laki maupun perempuan, semua menyanyikan line andalan “I don’t know where you are, Wish I was in your arms sometimes”.
Malam itu menjadi malam yang cukup emosional untuk beberapa orang dan mungkin inilah makna dari 100% Heavy at Heart, tagline andalan pendengar Colorcode.

Seperti halnya band yang bergerak di grassroot, pergerakan tentang isu kemanusiaan juga tak lepas dari show ini. Colorcode tetap bersuara tentang isu “Free Palestine” dengan menampilkan visual panggung bendera Palestina. Hal ini menjadi pengingat bahwa it’s not a show, it’s a movement.
Sejauh ini menonton live Colorcode selalu menyenangkan. Versi rekaman serta versi live performance dari Colorcode tak kalah berbeda. Merasakan pengalaman stage dive, lompat sana-sini, sing along, merayakan bahagia maupun merasa menjadi wong kalahan yang menang, mungkin inilah alasan Colorcode kembali; untuk menerima perubahan.
Rate: 8,9/10
Fav moment: Favorit momenku adalah saat Colorcode menyuarakan isu “Free Palestine”. Selalu menyenangkan mendengarkan band yang menyerukan isu sosial.
Least fav moment: Selain visual yang menurutku bisa lebih diolah, speak di sela-sela pergantian lagu juga perlu. Menghela napas dan berinteraksi dengan penonton akan bikin show jadi lebih intim jika interaksi juga lebih dekat.

