Malam Penganugerahan Kompetisi Film Pendek Pelajar Banjarnegara Movies 2026 berlangsung Sabtu, 8 Agustus di Alun-alun Banjarnegara. Fokus Banjarnegara Movies kali ini adalah kompetisi film pendek untuk dua jenjang pendidikan, yakni SMP sederajat dan SMA sederajat, dengan dua kategori, yakni dokumenter dan fiksi.
Melalui serangkaian acara mulai dari sosialisasi hingga kurasi, Banjarnegara Movies 2026 menerima 48 judul film, dengan rincian 13 film kategori fiksi SMP sederajat, 10 film kategori dokumenter SMP sederajat, 14 film fiksi SMA sederajat, dan 11 film dokumenter SMA sederajat.
Banjarnegara Movies 2026 mengangkat tema Banjarnegara Local Wisdom. Tema kearifan lokal ini diambil sebagai upaya menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali kearifan yang mulai terlupakan, terutama melalui medium film.
“Tapi pada akhirnya ada beberapa local wisdom itu dimaknai oleh teman-teman pelajar tidak hanya tradisi dan warisan budaya gitu. Mereka membicarakan tentang problematika yang ada, tentang permasalahan yang mungkin dihadapi oleh sekelompok orang, ataupun individu personal masing-masing, gitu” ujar Daru Satrioadi Wiguna selaku kurator Banjarnegara Movies.
Berbeda dengan Banjarnegara Movies tahun lalu yang diselenggarakan di Surya Yudha Cinema, tahun ini puncak acara Banjarnegara Movies diselenggarakan di Alun-alun Banjarnegara. Tidak hanya dihadiri oleh tamu undangan maupun perwakilan peserta, namun juga masyarakat secara umum.
Kendati demikian, acara berlangsung sebagai ajang pemberian penghargaan kepada para pemenang, tanpa memutarkan film-film peserta kompetisi ataupun pemenang kompetisi.
Aurelia Putri Fadilah, sutradara dari film Lenga Klentik dari SMK 1 Punggelan yang meraih juara dalam kategori fiksi SMA sederajat mengaku senang dan bangga telah memenangkan kategori tersebut. “Tadi sebelum pengumuman itu sempat nangis dulu karena takut, karena ini pertama kali saya ikut festival film di Banjarnegara.” ungkapnya.
Apa Kabar Perfilman Banjarnegara?
Banjarnegara Movies sebagai program dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan baru berjalan 2 tahun, alias dua kali. Kendati demikian, program kompetisi film pendek di level Kabupaten Banjarnegara telah berjalan belasan tahun dengan nama dan pendekatan yang berbeda-beda.
Dilansir dari laporan RRI Purwokerto (2023), Ketua Yayasan Prisma Banjarnegara, Aziz Arifianto, pernah mengungkapkan bahwa pelajar memiliki amunisi yang tidak pernah habis untuk menghidupkan film.
Bukan sebuah kebetulan jika pada tahun pertama Banjarnegara Movies, mereka membuka kompetisi untuk kategori mahasiswa/umum, dan pada tahun ini hanya ada dua kategori jenjang, yakni SMP dan SMA.
Festival film pelajar boleh jadi memiliki dinamika yang berbeda dengan festival film yang terbuka untuk umum. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah keberadaan unsur kompetisi dan hubungannya dengan sistem pendidikan. Bagi pelajar, mengikuti festival film tidak hanya dapat menjadi ruang untuk mengekspresikan diri melalui karya, tetapi juga dapat menjadi salah satu bentuk pencapaian yang membawa manfaat bagi individu maupun institusi sekolah.
Penghargaan dalam sebuah festival, misalnya, dapat dipandang sebagai prestasi bagi siswa sekaligus menjadi bagian dari rekam prestasi sekolah. Dalam konteks tertentu, hal ini dapat menciptakan dorongan tambahan untuk berpartisipasi. Guru atau pembimbing dapat memiliki kepentingan untuk mengikutsertakan siswanya, sementara sekolah dapat melihat kompetisi sebagai salah satu sarana untuk menunjukkan capaian nonakademik. Dengan demikian, unsur kompetisi dalam festival pelajar berpotensi menciptakan ekosistem partisipasi yang relatif berkelanjutan.
Hal tersebut mungkin berbeda dengan festival film umum, meskipun tentu tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh festival. Peserta dalam festival umum memiliki latar belakang dan tujuan yang lebih beragam. Motivasi untuk mengikuti festival dapat berkaitan dengan apresiasi seni, ekspresi personal, portofolio, jejaring profesional, maupun pengakuan dalam lingkungan perfilman. Dengan tidak adanya konteks institusional sekolah, dorongan untuk berkompetisi mungkin lebih banyak bergantung pada kepentingan dan motivasi masing-masing pembuat film.
Perbedaan lain yang mungkin muncul adalah tingkat barrier to entry. Produksi film pelajar pada umumnya berada dalam konteks pembelajaran, sehingga keterbatasan teknis dan sumber daya dapat lebih mudah diterima sebagai bagian dari proses tersebut. Pelajar dapat menggunakan perangkat yang tersedia, bekerja dengan teman sebaya sebagai kru, dan memanfaatkan fasilitas sekolah. Kondisi ini memungkinkan produksi dilakukan dengan biaya yang relatif terbatas.
Sementara itu, peserta festival umum dapat berasal dari individu maupun kelompok yang bekerja dalam konteks profesional atau semi-profesional. Standar teknis dan artistik yang dihadapi juga dapat lebih beragam, bergantung pada karakter festivalnya. Dalam situasi tertentu, kebutuhan untuk menghasilkan karya yang kompetitif dapat mendorong penggunaan sumber daya yang lebih besar, sehingga biaya dan hambatan untuk berpartisipasi ikut meningkat.
Dama Yuninata, perwakilan dari komunitas film Godong Gedang Banjarnegara mengungkapkan bahwa film butuh diarahkan bukan hanya sebatas kompetisi. “Saya pikir perkembangan film di Banjarnegara harus diarahkan sebagai sebuah karya seni, bukan hanya produk kompetisi.” katanya. “(Sebagai) karya seni yang dapat dinikmati.” lanjutnya.
Akses terhadap fasilitas produksi dan ekosistem secara keseluruhan juga menjadi perhatian. Daru mengungkapkan bahwa secara kualitas, produksi film pelajar memang bisa dimaklumi. Namun ia menambahkan bahwa hal yang lebih penting dari kualitas yang berkaitan dengan teknologi adalah narasi yang disampaikan.
“Yang tadi mungkin dipuji sama Mas Ferdinanda (Dewan Juri) judulnya itu Gendis Arum. Saya melihat sebuah kedalaman cerita di sini bahwa ada di beberapa daerah di pinggiran sana yang memang masih punya paham, “Ngapain perempuan ini sekolah tinggi-tinggi. SMP lulus, ya, nikah.” Akhirnya itu yang berusaha dibawakan menjadi sebuah film dan itu merupakan sebuah kritik sosial.”
Dari sisi produksi, Daru juga menyampaikan bahwa persoalan budget bisa menjadi salah satu alasan yang menghambat produktivitas pembuat film.
“Kalau eksibisi, menurut saya udah oke. Tapi kalau pembuatan film, produksi dengan taraf yang lumayan gede, belum ada kesadaran dan kemauan mengeluarkan budget tertentu sekian besar untuk hanya membuat satu film. Karena akhirnya, estetika yang bagus, visual yang bagus, tidak bisa dipungkiri perlu dana untuk budget yang bisa mengusahakan itu.” pungkasnya.

