Laku Paradoks FSTVLST dalam Paradoks Diametral

Campaign artwork Paradoks Diametral/FSTVLST

Album ketiga FSTVLST, Paradoks Diametral yang dirilis pada 1 Mei 2026, terasa seperti sebuah ruang penuh lapisan bunyi, kegelisahan, refleksi, dan spiritualitas.

Dengan 12 lagu, Farid Stevy Asta (vokal), Roby Setiawan (gitar), Humam Mufid Arifin (bass), dan Danish Wisnu Nugraha (drum) menciptakan pengalaman mendengar yang menyerupai kanvas dengan penuh coretan gagasan dan warna yang saling menyilang.

Lagu pembuka “Tri Esa (Ibid., Op. Cit., Loc. Cit.)” menjadi permulaan atmosferik album itu. Lirik “Antara langit bumi, yang lalu dan nanti” menjadi penanda arah album yang bergerak di antara realitas, spiritualitas, dan kontemplasi personal.

“Jefferson” melanjutkan perjalanan itu dengan narasi tragedi masa lampau sekaligus personal dengan karakter bunyi yang masih akrab dengan karakter FSTVLST era sebelumnya.

Pada lagu “Enam Masa”, ciri garage rock ala The Strokes masih terdengar jelas, dipadukan dengan permainan delay gitar Roby Setiawan. Liriknya tetap “langitan” khas Farid yang penuh metafora dan potongan kalimat provokatif yang terdengar seperti orasi kebudayaan.

Selanjutnya, “Objek Vital Nasional” menjadi bunyi sosial dan politik yang paling gamblang dalam album tersebut. Isu lingkungan, teknologi, hukum, hingga geopolitik diaransemen dengan cukup megah dengan koor anak-anak. Pada lagu itu, menjadi pengalaman paling eksplosif dalam album.

Ada “Doa Lamat-lamat” yang hadir jadi jeda reflektif. Dengan bunyi awal yang terdengar landai dan meditatif, sebelum distorsi besar menghantam di bagian akhir.

Mereka kemudian kembali membawa nuansa ‘langitan’ di “Rat Purwa”. Bunyi rock industrial berpadu dengan gagasan ‘sedulur papat limo pancer, kakang kawah adi ari-ari’ menghadirkan atmosfer ritualistik yang pekat.

Sementara itu, “Terima Terrima” melaju ke arah psikedelik dengan lirik reflektif soal penerimaan diri. Pada “Pratuntas”, energi garage rock terdengar lewat kebosanan yang diterjemahkan menjadi kebisingan.

“Sumpah Galaxy”, bagi penulis, menjadi salah satu nomor yang setidaknya menggambarkan kedewasaan mereka. Efek gitar kembali membawa pendengar ke ruang bunyi yang atmosferik, dengan bait-bait lirik empiris soal spiritualitas dan kerinduan dengan cara yang terasa intim.

Nuansa lebih ringan muncul lewat “Apa Kabar Opus” yang memiliki sisi rock nyaris pop. Eksperimen menarik muncul dalam “Poli Fono Foto Fantasi” dengan unsur elektronik menambah luas katalog musik mereka.

Album kemudian ditutup oleh “Rock Jelek”, lagu yang terasa seperti surat cinta untuk para pendengar FSTVLST.

“Kau tak harus hafal lirik lagunya. Kau tak harus menafsir musiknya. Tak ada yang harus, saat kita bersama, rayakan saja.”

Kalimat itu seolah menjadi penutup dan ajakan mereka untuk seperti apa menikmati Paradoks Diametral. Bagaimana pun, sebuah karya tidak bisa menuntut tafsir tunggal.

Menurut penulis, mereka berusaha memberi ruang bagi setiap pendengar untuk mencoretkan garis dan warna masing-masing di atas kanvas bunyinya sendiri di Paradoks Diametral.

Secara keseluruhan, Paradoks Diametral bukan album yang sepenuhnya terdengar baru, baik dari sisi bunyi maupun lirik demi mengejar kebaruan. Dalam penulisan lirik, Farid tampaknya mencoba mempertahankan kebiasaan untuk tidak mengulang dirinya sendiri.

Mereka hanya berupaya memperdalam dimensi spiritualitas, keresahan sosial, eksplorasi bunyi garage rock hingga post-punk, sampai bunyi-bunyi elektronik, serta puisi urban yang melayang di antara langit dan bumi.

Pada “Doa Lamat-lamat”, “Rat Purwa”, “Terima Terrima”, dan “Sumpah Galaxy”, setidaknya bagi penulis, mereka mencoba menghadirkan sudut pandang tentang seperti apa manusia “sebaiknya” hidup.

Terlebih pada “Rat Purwa”, entah Farid sekadar memotret bagaimana manusia pada masa lalu menggunakan pohon sebagai salah satu perantara penyembahan.

Atau, lebih jauh dari itu, Farid dalam lirik tersebut seperti mengembalikan alam pikiran leluhur: ‘kakang kawah adi ari-ari, sedulur papat lima pancer’, sebuah fondasi kosmologis sekaligus falsafah Jawa.

Bagi penulis, Farid melalui bait-bait liriknya mengisyaratkan upaya untuk menggambarkan energi atau potensi dalam diri manusia, yakni hawa nafsu: amarah, lawwamah, supiah, dan mutmainah.

Oleh sebab itu, menurut pemahaman tersebut, manusia sebagai pancer ialah manusia yang mampu mengendalikan, menyelaraskan, dan berdamai dengan hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya.

Sebab, ketika manusia telah berhasil ‘menjadi’, keempat variabel nafsu itu akan bersalin rupa menjadi kekuatan positif yang menjaga, membimbing, dan membawa keselamatan lahir batin.

Penulis, dalam hal ini, bukan bermaksud menelanjangi sebuah karya. Hanya mencoba mengapresiasi dengan mendengarkan, lalu merasakan apa saja yang hendak mereka berikan.

“Kau tak harus hafal lirik lagunya, kau tak harus menafsir musiknya. Tak ada yang harus saat kita bersama, rayakan saja.”

Skor: 7/10

Fav Track: Rat Purwa

Least Fav Track: Poli Fono Foto Fantasi