BANJARNEGARA, indiegigsmedia.com – KOBAR adalah akronim dari Komunitas Baca Banjarnegara, yaitu sebuah komunitas yang menjadi wadah bagi teman-teman penyuka buku (pembaca buku). Sudah beberapa kali indiegigsmedia.com ditandai di akun Instagram terkait flyer info diskusi (bedah buku) yang KOBAR laksanakan.
Kami baru saja melihat unggahan di akun Instagram mereka, @kobar.official. Salah satu unggahan terakhirnya berupa teaser yang bertuliskan:
“Coming soon, bedah buku serial yang diadakan bulanan ini akan mengambil tokoh Paulo Freire sebagai topik hangat diskusi. Paulo Freire adalah tokoh pendidikan terkemuka yang memiliki sejarah panjang dalam hal pendidikan untuk kaum tertindas. Bagaimana pemikirannya? Penasaran? Stay here at KOBAR, guys. We’ll publish the announcement.”
Begitulah yang tertulis pada caption beserta flyer dengan foto sosok pria tua berkacamata yang hanya tampak setengah wajah saja. Beliau adalah Paulo Freire. Siapakah dia? Tahukah kalian dengan sosoknya? Jika melihat halaman Wikipedia, berikut adalah sekilas tentang sosok Paulo Freire:
Freire dilahirkan dalam keluarga kelas menengah di Recife, Brasil. Namun, ia mengalami langsung kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929, suatu pengalaman yang membentuk keprihatinannya terhadap kaum miskin dan ikut membangun pandangan dunia pendidikannya yang khas.
Freire mulai belajar di Universitas Recife pada 1943 sebagai seorang mahasiswa hukum, tetapi ia juga belajar filsafat dan psikologi bahasa. Meskipun lulus sebagai ahli hukum, ia tidak pernah benar-benar berpraktik dalam bidang tersebut. Sebaliknya, ia bekerja sebagai seorang guru di sekolah-sekolah menengah mengajar bahasa Portugis. Pada 1944, ia menikah dengan Elza Maia Costa de Oliveira, seorang rekan gurunya. Mereka berdua bekerja bersama sepanjang hidupnya, sementara istrinya juga membesarkan kelima anak mereka.
Pada 1946, Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari Dinas Sosial di negara bagian Pernambuco. Selama bekerja di antara orang-orang miskin yang buta huruf, Freire mulai merangkul bentuk pengajaran non-ortodoks yang belakangan dianggap sebagai Teologi Pembebasan (dalam kasus Freire, ini merupakan campuran Marxisme dengan agama Kristen). Perlu dicatat bahwa di Brasil pada saat itu, melek huruf merupakan syarat untuk ikut memilih dalam pemilu.
Pada 1961, ia diangkat sebagai Direktur Departemen Perluasan Budaya dari Universitas Recife. Pada 1962, ia mendapatkan kesempatan pertama untuk menerapkan secara luas teori-teorinya ketika 300 orang buruh kebun tebu diajar untuk membaca dan menulis hanya dalam 45 hari. Sebagai tanggapan terhadap eksperimen ini, pemerintah Brasil menyetujui dibentuknya ribuan lingkaran budaya di seluruh negeri.
Pada 1964, sebuah kudeta militer mengakhiri upaya itu dan menyebabkan Freire dipenjarakan selama 70 hari atas tuduhan menjadi pengkhianat. Setelah mengasingkan diri untuk waktu singkat di Bolivia, Freire bekerja di Chili selama lima tahun untuk Gerakan Pembaruan Agraria Demokratis Kristen. Pada 1967, Freire menerbitkan bukunya yang pertama, Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan.
Buku ini disambut dengan baik, dan Freire ditawari jabatan sebagai profesor tamu di Harvard pada 1969. Tahun sebelumnya, ia menulis bukunya yang paling terkenal, Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed), yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol dan Inggris pada 1970. Buku itu baru diterbitkan di Brasil pada 1974 karena perseteruan politik antara pemerintahan diktatur militer dengan Freire.
Setelah setahun di Cambridge, Freire pindah ke Jenewa, Swiss, untuk bekerja sebagai penasihat pendidikan khusus di Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Pada masa itu, Freire bertindak sebagai penasihat untuk pembaruan pendidikan di bekas koloni-koloni Portugis di Afrika, khususnya Guinea Bissau dan Mozambik.
Pada 1979, ia dapat kembali ke Brasil dan menetap di sana pada 1980. Freire bergabung dengan Partai Buruh (PT) di kota São Paulo dan bertindak sebagai penyelia untuk proyek melek huruf dewasa hingga 1986. Ketika PT menang dalam pemilu munisipal tahun 1986, Freire diangkat menjadi Sekretaris Pendidikan untuk São Paulo.
Pada 1986, istrinya, Elza, meninggal dunia. Freire kemudian menikahi Maria Araújo Freire yang melanjutkan pekerjaan pendidikannya sendiri yang radikal. Pada 1991, didirikanlah Institut Paulo Freire di São Paulo untuk memperluas dan menguraikan teori-teorinya tentang pendidikan rakyat. Freire meninggal dunia karena serangan jantung pada 2 Mei 1997.
Bagi teman-teman yang punya hobi membaca, silakan mengikuti kegiatan KOBAR dan ikuti agenda bedah buku yang akan mereka laksanakan. Silakan pantau terus akun Instagram mereka di @kobar.official.

