Aturan mainnya dibikin lugas: siapa pun boleh datang dan bersenang-senang di arena moshpit, kecuali fasis. Pesan itu mewarnai gelaran Gigs Against the Machine (GATM) di Surya Yudha Park 2, Banjarnegara, pada 10 Mei lalu.
Di balik tata suara yang memekakkan dari 12 penampil: Nothing Rockstar, Hourglass, Nebula, Matriach, Truehope, Bleaszer, Oversuck, Suckinah, Betray, Dawnfold, Eightysix, hingga Darurat Disco, panggung kala itu lebih menyerupai ruang uji coba bagi sebuah ekosistem alternatif. Ia menjadi ikhtiar kolektif bawah tanah untuk mengembalikan musik punk dan hardcore pada khitahnya, bukan lagi sekadar gaya atau ajang pamer maskulinitas, melainkan praktik nyata sebuah solidaritas.
Berikut wawancara kami bersama Gigs Against the Machine:
Pertanyaan mendasarnya adalah, the whole idea of GATM ini sebenarnya apa? Apakah hardcore punk dan anti-fasisme jadi ide utama?
Sebenarnya sederhana. Secara historis, lahirnya punk maupun perkembangannya yang melahirkan hardcore punk (beserta semua turunannya) berkembang menjadi ruang yang terorganisir. Di dalamnya ada etika DIY (Do It Yourself), solidaritas komunitas, perlawanan terhadap otoritas, anti-rasisme, anti-fasisme, dan kritik terhadap kapitalisme.
Artinya, jika bertanya ide utama, adalah menjadikan anak-anak punk/HC menjadi diri mereka sendiri dengan semangat anti-rasis, anti-fasis, dan lain-lain. Hal tersebut tidak bisa dipisahkan, karena soal anti-fasis, anti-rasis, solidaritas, dan sebagainya itu harusnya menjadi napas dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, kalau dalam konteks GATM sendiri, fondasi awalnya adalah membangun ekosistem skena underground Banjarnegara menjadi ruang maupun media untuk belajar bersama, saling bersolidaritas, dan saling membangun. Maka konsep GATM sendiri tidak membentuk komunitas, namun mengajak komunitas, kolektif, dan personal yang ada untuk gotong royong membangun ekosistem. Sifat dan bentuknya kolaboratif.
Kalau secara praktis, bagaimana mengadvokasi ide-ide tersebut dan mempraktikkannya dalam bentuk gigs? Bagaimana bentuk belajar bersama, saling bersolidaritas itu? Baik yang sudah dijalankan maupun yang diharapkan bisa dijalankan.
Karena ini masih Vol. 1, maka upaya pertama kami adalah beradaptasi dengan ekosistem yang selama ini sudah terbentuk maupun yang sedang berjalan di Banjarnegara. Praktik paling awal kami adalah menyandingkan media informasi dan pengetahuan alternatif di dalam gigs, seperti lapak baca zine maupun buku. Selain itu, kami juga mengenalkan fanzine digital, poster protes, dan membagikan pengetahuan melalui media sosial kami.
Dalam gigs sendiri, tentu kami mencoba dari hal yang paling mungkin dilakukan, seperti adanya poster maupun bendera kampanye anti-fasis, rasis, seksis, dll. Kami juga secara bertahap menaikkan isu yang sedang terjadi di Banjarnegara, salah satunya isu Geodipa.
Bentuk belajar bersamanya yang sudah terasa adalah beberapa band mulai menganggap penting untuk merilis fanzine. Ini masih sangat awal, jadi belum bisa juga kami klaim sebagai bentuk keberhasilan. Namun setidaknya, kita sama-sama mengetahui bahwa ada beberapa item yang sebelumnya jarang (bahkan tidak di semua gigs Banjarnegara itu ada), yaitu lapak baca gratis.
Selain itu juga mengenalkan fanzine digital dan poster protes dan pengetahuan melalui media sosial kami tentunya.
Kalau mengadvokasi ide-ide dalam bentuk gigs sebenarnya bukan hal baru. Hampir semua gelaran gigs punk/HC pasti diisi dengan lagu-lagu protes, kemarahan, adanya orasi dari band, serta spanduk-spanduk protes yang dibawa audiens ke dalam arena moshpit.
Namun, jika bicara Banjarnegara, apakah hal ini juga sudah ada? Tentu sangat minim, karena Banjarnegara tidak memiliki budaya tersebut dalam bentuk gigs DIY. Jikapun ada, masih sebatas menjadi teriakan agar terlihat “punk/HC” namun mengabaikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kalimat terakhirnya menarik. Biar tidak jatuh ke kubangan jargon-jargon tanpa makna, ya?
Poinnya seperti itu, untuk mengikis adanya senioritas di dalam skena ataupun melanggengkan budaya banyak omong tanpa aksi.
Hal yang menarik juga, mumpung ini momen Pride Month, adalah spanduk soal homofobia di acara. Gimana tanggapan kalian soal individu secara khusus dan scene secara umum yang secara terang-terangan homophobic?
Soal Pride Month, kami sendiri tentu sangat ingin secara terbuka menunjukkan bahwa kami adalah “ally” bagi gerakan queer, namun kami juga memahami budaya lokal yang belum familier dengan hal tersebut. Bukan berarti kami menormalisasi; upaya yang bisa kami lakukan untuk tahap awal ini ya dengan terus membawa bendera Anti-Rasis, Anti-Fasis, Anti-Seksis, Anti-Homofobia, dan lain-lain.
Soal masih adanya audiens yang merasa jagoan, seksis, dan sebagainya, sejauh ini kami baru bisa dan akan melakukan konfrontasi langsung jika itu terjadi di gigs yang kami selenggarakan. Namun, seruan soal kesetaraan dan ruang aman akan terus kami tampilkan sebelum dan saat gigs, baik di medsos maupun di venue.
Oke. Sekarang geser ke rencana kompilasi. Lagu atau band seperti apa yang diharapkan bisa join di kompilasi? Baik secara teknis maupun non-teknis.
Nggak ada ekspektasi berlebih sih untuk kompilasi Vol. 1 ini. Setidaknya, ada yang mau men-submit karya mereka, mulai berani, dan mulai percaya diri dengan garapan mereka. Kami rasa masih dalam konteks band HC/punk, metal, dan di seputaran lagu kemarahan, kekecewaan, protes, dan semacamnya.
Teknisnya nanti, dari hasil gigs kemarin kami masih ada tabungan uang untuk merilis album kompilasi ini. Nantinya akan kami distribusikan ke beberapa kota/kabupaten melalui jaringan kolektif, agar lebih banyak yang mengenal band atau lagu teman-teman dari Banjarnegara.
Untuk Volume 2 sudah ada teaser-nya. What should be anticipated untuk volume lanjutan ini? Apakah ada yang beda? Lebih apa?
Nggak sih, kami pengin buat yang simpel-simpel aja. Promosi event-nya juga nggak seribet Vol. 1, karena Vol. 1 itu kan masih jadi upaya perkenalan. Soal hal baru, masih tahap obrolan sama teman-teman. Kalaupun ada yang baru, nggak yang baru-baru banget, tapi masih di seputaran edukasi budaya di dalam gigs.
Kemungkinan juga band yang main adalah band yang secara sikap dan garis kampanyenya sama dengan kami. Bukan band yang hanya mementingkan estetika foto panggung dan maskulinitas toksik. Cuma, mungkin yang tergambar bagi kami sekarang adalah: gimana agar banyak teman-teman perempuan yang datang ke gigs, dan mencoba menjawab ketakutan-ketakutan mereka kenapa nggak berani datang ke acara musik seperti ini.
Ada tambahan?
Sementara cukup itu sih, karena memang masih awal banget juga GATM, belum berani terlalu jauh. Biar lebih mudah dipahami secara sederhana aja.
Pertanyaan terakhir: kalau Jokowi sama Prabowo tanding MMA, siapa yang bakal menang dan kenapa?
JOKOWI DONG. Prabs udah nggak punya tenaga, napasnya juga udah ngap-ngapan, jalan juga masih dibantu Bunna Teds. Jokowi masih oke, nggak harus pukul-pukulan. Suruh tahan-tahanan berdiri 3 ronde aja.
Album Kompilasi Banjarnegara Underground Compilation
Gigs Against the Machine (GATM) kini tengah merancang sebuah langkah pengarsipan. Mereka bersiap merangkum semangat musik bawah tanah lokal ke dalam sebuah album bertajuk Banjarnegara Underground Compilation.
Pengumpulan karya kini resmi dibuka. GATM mengundang grup-grup musik lokal, khususnya yang bergerak di jalur punk, hardcore, metal, dan sejenisnya, untuk ikut serta menyumbangkan karya mereka. Setiap band cukup mengunggah maksimal dua nomor lagu ke layanan penyimpanan seperti Google Drive. Setelah tautan karya disiapkan, peserta dapat langsung menghubungi dan melakukan konfirmasi melalui pesan di akun Instagram resmi GATM.
Bagi penyelenggara, proyek kompilasi ini bukan sekadar unjuk gigi atau etalase karya. Berbekal sisa dana kas dari pertunjukan sebelumnya, album ini nantinya akan didistribusikan secara fisik ke berbagai kota dan kabupaten lewat jaringan kolektif. Sebuah ikhtiar lanjutan untuk memantik rasa percaya diri musikus lokal, sekaligus memastikan geliat komunitas dari Banjarnegara bisa bergema lebih lantang di luar kota.


